- Definisi dari IUPAC[1] mendefinisikan logam transisi sebagai "sebuah unsur yang mempunyai subkulit d yang tidak terisi penuh atau dapat membentuk kation dengan subkulit d yang tidak terisi penuh"
- Sebagian besar ilmuwan mendefinisikan "logam transisi" sebagai semua elemen yang berada pada blok-''d'' pada tabel periodik (semuanya adalah logam) yang memasukkan golongan 3 hingga 12 pada tabel periodik. Dalam kenyataan, barisan blok-f lantanida dan aktinida juga sering dianggap sebagai logam transisi dan disebut "logam transisi dalam".
sumber :
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Umumnya unsur-unsur transisi periode keempat terdapat
dalam bentuk oksida, sulfida, dan karbonat. Hanya tembaga yang dapat ditemukan
dalam keadaan bebas maupun dalam bentuk senyawanya. Hal ini disebabkan tembaga tergolong
unsur logam yang relatif sukar dioksidasi. Keberadaan unsur-unsur transisi
dalam bentuk oksidasi dan sulfida disebabkan unsur-unsur logam yang berasal
dari perut bumi terdesak menuju kerak bumi akibat tekanan magma. Selama dalam
perjalanan menuju kerak bumi, unsur-unsur logam bereaksi dengan belerang atau
oksigen yang terdapat di kerak bumi sehingga terbentuk mineral dari unsur-unsur
transisi.
Tabel
4.4 Sumber Mineral Unsur Transisi
Logam
|
Mineral
|
Komposisi
|
Titanium
|
Rutil
|
TiO2
|
Ilmenit
|
FeTiO3
|
|
Vanadium
|
Vanadit
|
Pb3(VO4)2
|
Kromium
|
Kromit
|
FeCr2O4
|
Mangan
|
Pirolusit
|
MnO2
|
Besi
|
Hematit
|
Fe2O3
|
Magnetit
|
Fe3O4
|
|
Pirit
|
FeS
|
|
Siderit
|
FeCO3
|
|
Kobalt
|
Smaltit
|
CoAs2
|
Kobaltit
|
CoAsS
|
|
Nikel
|
Nikelit
|
NiS
|
Tembaga
|
Kalkosit
|
Cu2S
|
Kalkofirit
|
CuFeS
|
|
Malasit
|
Cu2CO3(OH)2
|
|
Seng
|
Spalerit
|
ZnS
|
Oleh
sebab itu, mineral dari logam-logam transisi pada umumnya dalam bentuk oksida
atau sulfida dan sebagian dalam bentuk senyawa karbonat. Jika dilihat pada
Tabel 4.4, tampak bahwa bentuk oksida merupakan mineral paling banyak ditemukan
di alam sebab hampir semua material alam mengandung oksigen. Mineral dapat
dijadikan sumber material untuk memproduksi bahanbahan komersial yang disebut
bijih logam. Sumber bijih logam tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti
ditunjukkan pada Tabel 4.5.
Tabel
4.5 Sumber Bijih Logam di Berbagai Daerah di Indonesia
Logam
|
Mineral
|
Rumus
|
Daerah
|
Besi
|
Hematit
|
Fe2O3
|
Kalimantan Barat
|
Magnetit
|
Fe3O4
|
Sumatra Barat
|
|
Siderit
|
FeCO3
|
Sumatra Selatan
|
|
Pirit
|
FeS2
|
Sulawesi Tengah
|
|
Nikel
|
Nikelit
|
NiS
|
Sulawesi Tengah
|
Garnerit
|
H2(NiMg)SiO4.2H2O
|
Sulawesi Tengah
|
|
Tembaga
|
Kalkopirit
|
CuFeS2
|
Pegunungan Jayawijaya; Kalimantan
Barat
|
1. Sumber dan Kegunaan Skandium (Sc)
Scandium
adalah unsur yang jarang terdapat di alam. Walaupun ada, umumnya terdapat dalam
bentuk senyawa dengan biloks +3. Misalnya, ScCl3, Sc2O3,
dan Sc2(SO4)3. Sifat-sifat senyawa skandium
semuanya mirip, tidak berwarna dan bersifat diamagnetik. Hal ini disebabkan
dalam semua senyawanya skandium memiliki konfigurasi elektron ion
Sc3+, sedangkan sifat warna dan kemagnetan ditentukan oleh konfigurasi elektron
dalam orbital d. Logam skandium dibuat melalui elektrolisis lelehan ScCl3.
Dalam jumlah kecil, scandium digunakan sebagai filamen lampu yang memiliki
intensitas tinggi.
2. Sumber dan Kegunaan Titanium (Ti)
Titanium
merupakan unsur yang tersebar luas dalam kulit bumi (sekitar 0,6% massa kulit
bumi). Oleh karena kerapatan titanium relatif rendah dan kekerasan tinggi,
titanium banyak dipakai untuk bahan struktural, terutama pesawat terbang
bermesin jet, seperti Boeing 747. Mesin pesawat terbang memerlukan bahan yang
bermassa ringan, keras, dan stabil pada suhu tinggi. Selain ringan dan tahan
suhu tinggi, logam titanium tahan terhadap cuaca sehingga banyak digunakan
untuk material, seperti pipa, pompa, tabung reaksi dalam industri kimia, dan
mesin mobil. Umumnya, senyawa titanium digunakan sebagai pigmen warna putih.
Titanium(IV) oksida merupakan material padat yang digunakan sebagai pigmen
putih dalam kertas, cat, plastik, fiber sintetik, dan kosmetik. Sumber utama
titanium(IV) oksida adalah bijih rutil (matrik TiO2) dan ilmenit
(FeTiO3). Rutil diolah dengan klorin membentuk TiCl4 yang
mudah menguap, kemudian dipisahkan dari pengotor dan dibakar menjadi TiO2.
TiCl4(g)
+ O2(g) → TiO2(s)
+ Cl2(g)
Ilmenit
diolah dengan asam sulfat membentuk senyawa sulfat yang mudah larut dalam air.
FeTiO3(s)
+ H2SO4(aq) → Fe2+(aq)
+ TiO32+(aq) + 2SO42–(aq) + 2H2O(l)
Campuran
hasil reaksi dimasukkan ke dalam vakum agar terbentuk FeSO4.7H2O
padat yang mudah dikeluarkan. Sisa campuran dipanaskan menjadi titanium(IV)
oksida hidrat (TiO2.H2O), selanjutnya hidrat dikeluarkan
melalui pemanasan membentuk TiO2 murni.
TiO2.H2O(s)
→ TiO2(s) + H2O(g)
Senyawa
titanium(III) dapat diperoleh melalui reduksi senyawa titan yang memiliki biloks +4. Dalam larutan air,
Ti3+ terdapat sebagai ion Ti(H2O)63+ berwarna
ungu, yang dapat dioksidasi menjadi titanium(IV) oleh udara. Titanium(II) tidak
stabil dalam bentuk larutan, tetapi lebih stabil dalam bentuk oksida padat
sebagai TiO atau sebagai senyawa halida TiX2.
3. Sumber dan Kegunaan Vanadium (V)
Vanadium
tersebar di kulit bumi sekitar 0,02% massa kulit bumi. Sumber utama vanadium
adalah vanadit, Pb3(VO4)2. Vanadium umumnya
digunakan untuk paduan dengan logam besi dan titanium. Vanadium(V) oksida
digunakan sebagai katalis pada pembuatan asam sulfat. Logam vanadium murni
diperoleh melalui reduksi elektrolitik leburan garam VCl2.
Logam vanadium menyerupai baja berwarna abu-abu dan bersifat keras serta tahan
korosi. Untuk membuat paduan tidak perlu logam murninya. Contohnya,
ferrovanadium dihasilkan melalui reduksi campuran V2O5 dan
Fe2O3 oleh aluminium, kemudian ditambahkan besi untuk
membentuk baja vanadium, baja sangat keras yang digunakan pada bagian mesin dan
poros as.
4. Sumber dan Kegunaan Kromium (Cr)
Bijih
kromium paling murah adalah kromit, FeCr2O4, yang dapat
direduksi oleh karbon menghasilkan ferrokrom.
FeCr2O4(s)
+ 4C(s) → Fe–2Cr(s) + 4C(g)
Logam
kromium banyak digunakan untuk membuat pelat baja dengan sifat keras, getas,
dan dapat mempertahankan permukaan tetap mengkilap dengan cara mengembangkan
lapisan film oksida. Kromium dapat membentuk senyawa dengan biloks +2, +3, +6.
Kromium(II) dalam air merupakan reduktor kuat. Kromium(VI) dalam larutan asam
tergolong oksidator kuat. Misalnya, ion dikromat (Cr2O72–)dapat
direduksi menjadi ion Cr3+:
Cr2O72–(aq)
+ 14H+(aq) + 6e– → 2Cr3+(aq)
+ 7H2O(l)
Biloks
|
Senyawa
|
+2
|
CrX2
|
+3
|
CrX3, Cr2O3,
dan Cr(OH)3
|
+6
|
K2Cr2O7,
Na2CrO4, dan CrO3
|
Dalam
larutan basa, kromium(VI) terdapat sebagai ion kromat, tetapi daya oksidatornya
berkurang.
CrO42–(aq)
+ 4H2O(l) + 3e– → Cr(OH)3(s)
+ 5OH–(aq)
Kromium(VI)
oksida (CrO3) larut dalam air membentuk larutan asam kuat yang
berwarna merah-jingga:
2CrO3(s)
+ H2O(l) → 2H+(aq)
+ Cr2O72–(aq)
Campuran
krom(VI) oksida dan asam sulfat pekat digunakan sebagai pembersih untuk
menghilangkan bahan organik pada alat-alat laboratorium. Akan tetapi, larutan
ini bersifat karsinogen (berpotensi menimbulkan kanker).
5. Sumber dan Kegunaan Mangan (Mn)
Mangan
relatif melimpah di alam (0,1% kulit bumi). Salah satu sumber mangan adalah
batuan yang terdapat di dasar lautan dinamakan pirolusit. Suatu batuan yang
mengandung campuran mangan dan oksida besi. Kegunaan umum mangan adalah untuk
membuat baja yang digunakan untuk mata bor (pemboran batuan). Mangan terdapat
dalam semua biloks mulai dari +2 hingga +7, tetapi umumnya +2 dan +7. Dalam
larutan, Mn2+membentuk Mn(H2O)62+,
yang berwarna merah muda. Mangan(VII) terdapat sebagai ion permanganat (MnO4–)
yang banyak digunakan sebagai pereaksi analitik. Beberapa jenis mangan yang
umum ditunjukkan pada Tabel 4.7.
Tabel
4.7 Senyawa Mangan dan Biloksnya
Biloks
|
Senyawa
|
+2
|
Mn(OH)2, MnS, MnSO4,
dan MnCl2
|
+4
|
MnO2
|
+7
|
KMnO4
|
6. Sumber dan Kegunaan Besi (Fe)
Besi
merupakan logam yang cukup melimpah dalam kulit bumi (4,7%). Besi murni
berwarna putih kusam yang tidak begitu keras dan sangat reaktif terhadap zat
oksidator sehingga besi dalam udara lembap teroksidasi oleh oksigen dengan
cepat membentuk karat.
Tabel
4.8 Senyawa Besi dan Biloksnya
Biloks
|
Senyawa
|
+2
|
FeS, FeSO4.7H2O,
dan K4Fe(CN)6
|
+3
|
FeCl3, Fe2O3,
K3[Fe(CN)6], dan Fe(SCN)3
|
Campuran +2 dan +3
|
Fe3O4 dan KFe[Fe(CN)6]
|
Di
dalam air, garam besi(II) berwarna hijau terang akibat membentuk ion Fe(H2O)62+.
Besi(III) dalam bentuk ion Fe(H2O)63+ tidak
berwarna, tetapi larutan garamnya berwarna kuning-cokelat akibat terbentuknya
ion Fe(OH)(H2O)52+ yang
bersifat basa.
7. Sumber dan Kegunaan Kobalt (Co)
Walaupun
kobalt relatif jarang terdapat di alam, tetapi dapat ditemukan dalam bijih
smaltit (CoAs2) dan kobaltit (CoAsS) dalam kadar yang memadai jika
diproduksi secara ekonomis. Kobalt bersifat keras, berwarna putih kebiruan, dan
banyak digunakan untuk membuat paduan, seperti baja perak (stainless steel).
Baja perak merupakan paduan antara besi, tembaga, dan tungsten yang digunakan
dalam instrumentasi dan alat-alat kedokteran (Gambar 4.6).
Gambar
4.6 Isotop kobalt digunakan untuk perawatan pasien kanker
Kobalt
utamanya memiliki biloks +2 dan +3, walaupun senyawa kobalt dengan biloks 0,
+1, dan +4 juga dikenal. Larutan garam kobalt(II) mengandung ion Co(H2O)62+ yang
memberikan warna merah muda. Kobalt dapat membentuk berbagai senyawa
koordinasi, seperti ditunjukkan pada Tabel 4.9.
Tabel
4.9 Senyawa Kobalt dan Biloksnya
Biloks
|
Senyawa
|
+2
|
CoSO4, [Co(H2O)6]Cl2,
[Co(H2O)6](NO3)2, dan CoS
|
+3
|
CoF3, Co2O3,
K3[Co(CN)6], dan [Co(NH3)6]Cl3
|
8. Sumber dan Kegunaan Nikel (Ni)
Kelimpahan
nikel dalam kulit bumi berada pada peringkat ke-24, terdapat dalam bijih
bersama-sama dengan arsen, antimon, dan belerang. Logam nikel berwarna putih
seperti perak dengan konduktivitas termal dan2O)62+ yang berwarna hijau
emerald. Senyawa koordinasi nikel(II) dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Senyawa Nikel dan Biloksnya
Tabel 4.10 Senyawa Nikel dan Biloksnya
Biloks
|
Senyawa
|
+2
|
NiCl2, [Ni(H2O)6]Cl2,
NiS, NiO, Co2O3, [Ni(H2O)6]SO4
|
9. Sumber dan Kegunaan Tembaga (Cu)
Tembaga
memiliki sifat konduktor listrik sangat baik sehingga banyak digunakan sebagai
penghantar listrik, misalnya untuk kabel listrik (Gambar 4.8). Selain itu,
tembaga tahan terhadap cuaca dan korosi. Walaupun tembaga tidak begitu reaktif,
tetapi dapat juga terkorosi. Warna kemerah-merahan dari tembaga berubah menjadi
kehijau-hijauan akibat terkorosi oleh udara membentuk patina.
3Cu(s)
+ 2H2O(l) + SO2(g) + 2O2(g) → Cu(OH)4SO4
Biloks
|
Senyawa
|
+1
|
Cu2O, Cu2S, dan
CuCl
|
+2
|
CuO, CuSO4.5H2O,
CuCl2.2H2O, dan [Cu(H2O)6](NO3)2
|
Tembaga
dalam jumlah sedikit diperlukan oleh tubuh sebagai perunut, tetapi dalam jumlah
besar sangat beracun. Oleh karena beracun, garamtembaga digunakan untuk
membunuh jamur, bakteri,
danalga.