Minggu, 28 Agustus 2016

Makalah massage

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sehat merupakan investasi ke depan yang harus benar-benar dijaga. Bila perlu dilakukan sedini mungkin, sampai dewasa bahkan tua sekalipun. Kesehatan tiada duanya bagi yang mencintainya, seperti sebuah pepatah klasik mensana in coperasano atau dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula.
Di jaman modern ini, banyak kegiatan dan aktivitas kerja yang kita lakukan dengan cara duduk atau berdiri, ditambah lagi daya tarik gravitasi telah menyebabkan racun dari sisa-sisa hasil metabolisme tertimbun di telapak kaki. Di samping itu kurangnya berolahraga dan makanan yang tidak dijaga menyebabkan banyak orang merasa letih, lesu, tidak bersemangat dan timbulnya berbagai penyakit.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh International Journal of Alternative and Complementary Medicine, orang yang menderita stres dan depresi merasa ada perbaikan setelah menjalani terapi massage selama 30 menit minimal setiap minggu.
Kata massage berasal dari bahasa Arab mass yang berarti menekan, dengan imbuhan age dari bahasa Perancis. Mungkin pula kata massage dari bahasa Yahudi Maschesch yang berarti meraba. Yang mempergunakan kata massage ialah lepage, seorang bangsa Perancis pada tahun 1813.
Di Indonesia massage dikenal dengan sebutan pijatan atau pijitan, pijitan terdiri dari pijitan- pijitan lembut dengan jari- jari. Cara memijat belum mempunyai landasan teori. Sehingga perlu adanya sarana untuk memberikan petunjuk mengenai teknik- teknik di dalam massage. Lebih khususnya pada sport massage.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah perkembangan massage di Dunia dan Indonesia?
2. Bagaimana memahami teori- teori massage ?
3. Bagaimana teknik sport massage?
4. Bagaimana pengaruh sport massage terhadap tubuh?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan massage di Dunia dan Indonesia.
2. Untuk memahami teori- teori dalam massage .
3. Untuk mengetahui teknik sport massage.
4. Untuk mengetahui pengaruh sport massage terhadap tubuh.













BAB II
KAJIAN TEORI
A. Sejarah Perkembangan Massage
1. Sejarah perkembangan massage di dunia
Bentuk massage paling primitif  telah diakukan manusia yang sama sekali tidak mengetahui tentang massage. Sakit atau kaku pada bagian tubuh tertentu , diraba- raba, ditekan- tekan atau diurut- urut pada tempat yang sakit atau yang kaku itu. Demikian terjadinya massage pada manusia yang sederhana.
Dengan cara demikian ternyata rasa sakit atau tidak enak itu berkurang atau hilang sama sekali. Dari pengalaman itu orang  yang arif  menemukan penyembuhan yang sekarang dikenal dengan massage. Yang menarik ialah bahwa cara penyembuhan demikian telah terdapat di berbagai belahan dunia ini.
Di Tiongkok dalam kitab KONG FU (2700 SM) terdapat tulisan yang berhubungan dengan massage dan senam penyembuhan. Waktu itu telah dikenal cara pemijatan (Petrissage) dan gosokan (Frictions).
Bangsa India kuno yang terkenal telah memiliki peradaban yang tinggi telah pula mengenal massage dengan hygiene seperti mandi, menggosok badan dan senam. Hal ini tedapat dalam kitab suci VEDA.
Bangsa Mesir dan Persia Kuno juga telah mengenal massage dan senam. Walaupun peninggalan dalam bentuk tulisan tidak ditemukan tetapi dapat dilihat pada benda- benda relief peninggalan mereka.
Bangsa Yunani Kuno juga telah mengenal massage dan senam penyembuhan. Massage dilakukan oleh petugas- petugas khusus, yaitu kaum Intrilipten dan Paealatriben. Massage yang mereka lakukan pada umumnya berhubungan dengan mandi yang mereka anggap mempunyai unsur-unsur penyembuhan. Herodotus (Herodicos) adalah orang pertama yang memasukkan unsur-unsur Therapeutis ke dalam massage. Muridnya Hypocrates (460-377 SM) yang sampai sekarang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran, menekankan penggunaan frictions pada luksasi, distorsi dan pembengkakan. Massage digunakan untuk menguatkan sendi yang lemah dan melemaskan sendi yang kaku.
Untuk itu digunakan effleurage yang kuat dalam waktu singkat. Sebagai pelicin digunakan minyak atau lumpur.        
Askleipiades membawa pengetahuan ini ke Roma dan disana ia menjadi orang pertama yang menggunakan massage sebagai cara mengobati.
Celcus dan Galenus menulis tentang massage dan senam. Tulisan Galenus sampai sekarang masih  banyak dipelajari. Sesudah masa Galenus datanglah masa suram bagi perkembangan massage.
Pada permulaan 1575 massage dikembangkan lagi oleh ahli bedah seorang kebangsaan Perancis yaitu Ambroise Pare, namun belum mempunyai dasar ilmiah. Baru pada abad ke-17, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan Anatomi dan Fisiologi, massage mempunyai dasar ilmiah.
Seorang Bangsa Inggris, Dr. Sydenham (1624-1689) berusaha mengobati gangguan kronis dengan cara mekanis. Kemudian Prof. Dr. P. Hoffman dari Jerman dan Tissot dari Perancis memprakasai hal tersebut dalam bidang kesehatan. Pada permulaan abad ke-19 banyak dokter Perancis, diantaranya: Laisne, Se`e, Estradore, Delpech, Gerrard, dan Heidelbrand berusaha mengembangkan massage. Sampai sekarang harus kita akui bahwa kita masih memakai manipulasi yang berasal dari jaman Hypocratus dan lain-lain, yang kita pilih dan selidiki secara ilmiah.
Pembaharuan massage timbul pada pertengahan abad ke dua abad 19 dengan munculnya seorang ahli bernama Mezger di Amsterdam yang banyak menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada perkembangan massage. Helleday membawa metode massage-nya ke Stockholm dan memperbaiki metode Ling yang kemudian diberi nama Massage Swedia.
Di Jerman, Tobby Chon dan Monsengeil menyatukan metode Mezger. Kemudian banyak buku diterbitkan diantaranya oleh Bum, Bohm, Reibmayer, Hoffa, Dollinger, dan Dubinus.
Walaupun Mezger besar jasanya bagi perkmbangan massage tapi ia tidak malakukan penyelidikan sendiri. Hal ini dilakukan Monsengeil. Pada tahun 1910 Rosenthal menerbitkan buku sebagai hasil penelitian dari teori Mezger dan ahli yang lain.
Zabludowski dari Rusia mempelajari massage rakyat  Rusia dan Finlandia serta pengaruhnya terhadap tubuh. Usahanya dilanjutkan Kirchberg yang mengarang buku ” Henbuch der Massage en Heilgymnastiek ” . Ia menulis pengaruh massage terhadap peredaran darah  secara mekanis dan reflektoris yang menyebabkan pembesaran volume kapiler.
Pada tahun 1915 terbit buku dari Dr. Muller yaitu ”Lehbuch der Massage” di Munchen gladbach. Karangan ini sudah berdasar ilmiah. Banyak pendapat dahulu dikritik dan ditinggalkan. Pendapatnya diikuti oleh Froliep. Norstorm, Kleen, Hilledey, Edinger, Auerbach, dan Cornelis. Buku-buku lain dikarang oleh Prof. A. Hoffa, Gocht, stork, dan Dubinus. Dalam buku- buku tersebut manipulasi lama masih digunakan sesuai dengan tempat di massage.
2. Sejarah perkembangan Massage di Indonesia
Sampai dengan penjajahan Jepang, Indonesia masih belum mengenal atau mungkin hanya sebagian kecil saja yang mengenal massage. Istilah yang dipergunakan pada umumnya masih pijat atau pijit. Orang yang melaksanakan pijitan disebut tukang pijit atau tukang pijat. Kebanyakan tukang- tukang pijat terdiri dari orang- orang yang tuna netra. Mereka melakukannya karena warisan atau kecakapan yang mereka peroleh selama mereka menjadi tukang pijat. Kebanyakan tujuan dari pijatan adalah penyembuhan atau kesehatan.
Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, olahraga maju dengan pesat. Di Indonesia diadakan kejuaraan- kejuaraan olahraga regional maupun nasional dan juga Indonesia mengikuti pertandingan- pertandingan internasioanal. Bahkan Indonesia menyelenggarakan sendiri Asian Games, yang pesertanya terdiri dari negara- negara asia. Selanjutnya Indonesia menyelenggarakan Ganefo, singkatan dari Games of the New Emerging Forces, yang pesertanya terdiri dari hampir seluruh dunia.
Uraian diatas menunjukkan kebutuhan Indonesia akan masseur- masseur olahraga yang harus dipenuhi dengan segera dan dalam jumlah yang banyak.
Sampai kira- kira tahun 1954, perkumpulan – perkumpulan olahraga setempat mempergunakan tukang- tukang pijat dengan sedikit latihan massage. Selanjutnya setelah lembaga- lembaga pendidikan keolahragaan menghasilkan sebagian para lulusannya ditugaskan untuk menangani massage olahraga, disamping tugas pokoknya sebagai guru penjas ataupun pelatih.
Perlu dicatat pengabdian dokter Soeharso, disamping sebagai kepala pusat rehabilitasi anak- anak cacat tubuh , beliau berhasil membina dan menatar masseur- masseur olahraga, baik yang ditempatkan di perkumpulan- prkumpulan olahraga maupun yang ditempatkan pada lembaga- lembaga pendidikan olahraga. Berkat jasa beliaulah kebutuhan akan masseur olahraga dalam Pekan Olahraga Nasional , asian Games IV pada tahun 1962 dan GANEFO pada tahun 1964 di Jakarta dapat dipenuhi.
Ilmu pengetahuan berkembang terus dengan cepatnya. Sebaiknya dalam rangka perkembangan dibidang massage, dirasakan keperluannya untuk mendirikan suatu ikatan dalam rangka membina, mengembangkan dasar- dasar ilmiah dan keprofesian di bidang massage.




B. Teori- teori Sport Massage
Uraian teori massage yang paling tua disusun oleh A.Hoffa pada tahun 1893. Ia mendasarkan teorinya pada kerja mekanik. Adanya tekanan pada pembuluh darah dan pembuluh limfa, isi dari pembuluh-pembuluh tersebut dengan adanya kelap-kelap akan didorong kearah jantung (arah sentripetal)
Sebagai bukti “ kerja tekan hisap “ ini pada sirkulasi vena dan limfa diambil contoh percobaan Von Mossengeil. Von Mossengeil mengambil bak berisi air. Pada bak tersebut diletakkan sebuah papan kecil dengan pipa karet yang menggantung pada satu sisi dalam air. Dengan menggosokkan ibu jari ke pipa karet, akan terjadi suatu tekanan antara ibu jari dan air. Oleh karena itu air akan dihisap ke dalam pipa, dan akhirnya air akan mengalir.
Menyamakan pembuluh limfa dan vena dalam tubuh kita dengan pipa karet kecil adalah salah, karena pembuluh- pembuluh ini tidak elastis seperti pipa karet, dan lebih lagi di dalam pembuluh limfa dan vena tidak ada udara.
Tetapi dapat dimengerti juga, bahwa di bawah pengaruh tekanan dari luar, isi pembuluh darah atau pembuluh limfa dapat dipindahkan dalam jarak yang pendek.
Untuk memperoleh “tekan-hisap” sebaik mungkin, Hoffa menganjurkan agar tangan diletakkan betul-betul menyambung di sekeliling otot-otot, dimana ibu jari dan jari tangan terletak di sekeliling sisi otot.
Uraian teori berikutnya diteliti oleh Dr. Franz Kirchberg, pada tahun 1926. Teorinya berdasarkan keterangan reflektoris. Ia bertitik tolak pada pangkal duga terjadinya hyperaemie sebagai akibat kerja reflektoris dari pegangan-pegangan massage. Tinjauan cara mekanis dari Hoffa tidak ia tinggalkan seluruhnya.
Rangsangan yang ditimbulkan secara mekanis, dikirimkan melalui syaraf-syaraf sensible ke sum-sum tulang belakang. Melalui sambungan neuron, rangsangan-rangsangan tersebut diteruskan penyalurannya. Pertama-tama rangsangan dipindahkan ke sel tanduk motorik, yang mengirimkannya kembali rangsangan tersebut ke kulit atau ke otot. Sambungan neuron lainnya mengirimkan rangsang yang sama ke otak, yaitu ke pangkal otak atau hypothalamus. Di hypothalamus terdapat macam-macam pusat syaraf hewani dan pusat syaraf nabati. Pusat-pusat syaraf ini menangani rangsangan-rangsangan tersebut, dimana akan terjadi macam-macam perubahan didalam jaringan-jaringan. Perubahan-peruban tersebut dapat terjadi suatu vasodilatasi (pelebaran pembuluh) nadi dan terjadinya zat-zat perangsang jaringan.
Selain refleks-refleks yang langsung dan tidak langsung masih ada reflex yang disebut refleks akson. Refleks ini terjadi pada ujung syaraf sensible di dalam kulit, dan sebagian kecil berjalan menuju syaraf sensible kea rah sentripetal kembali ke pinggir, dan berhenti dalam dinding pembuluh darah yang halus.
Bersamaan dengan kemajuan berbagai bidang ilmu pengetahuan berkembang pula uraian teori massage dengan uraian biokimiawi. Dr. Max Lange (1921) menyebutkan terjadinya pengerasan otot atau disebut myogelosen disebabkan adanya perubahan-perubahan kimiawi di dalam koloida otot. Penyebab terjadinya pengerasan otot adalah angin, masuk angin, kelembaban, kedinginan, terlalu tegang, gangguan pertukaran zat dan penyakit infeksi.
Ternyata akibat dimassage, di dalam jaringan-jaringan terjadi zat-zat yang merangsang pelebaran pembuluh darah. Dan memperbesartr penembusan (permeabilitas) dinding kapiler. Zat-zat tersebut dinamakan zat perangsang jaringan. Zat-zat tersebut adalah histamine, padutin, adenosine, dan acettylcholin. Padutin adalah suatu hormone sirkulasi yang ditemukan oleh Frey-Kraut.
Ebbecke (1923) menemukan histamine dalam luka-luka tergores. Sejalan dengan itu, Lewis mengadakan suatu percobaan. Ia menyetop peredaran darah dengan jalan mengikat. Setelah itu ia menyuntikan histamine ke dalam lengan tersebut. Setelah 10 menit peredaran darah dibebaskan kembali, dengan melepaskan ikatannya. Terjadinya bercak-bercak kemerahan. Ia mengulangi percobaan tersebut. Tetapi sekarang tanpa menyuntikkan histamine. Lengan yang dalam keadaan terikat itu di massage. Setelah 10 menit sirkulasi darah diperbaiki kembali dengan melepaskan ikatannya.
Terjadilah hyperaemie, bercak- bercak merah seperti pada percobaan yang pertama. Dari percobaan tersebut, Lewis ingin menunjukkan bahwa adanya histamin dalam kulit tidak terjadi melalui reflektoris. Kerja saraf tetap ada, meskipun lengan diikat.
Ruhmann mengkonstatir adanya pengurangan sakit di dalam otot karena dimassage. Ia menguraikan hal tersebut dengan membebaskan acetylcholin yang merangsang parasympaticus. Suatu peningkatan kerja dari parasympaticus menyajikan penahanan kerja dari orthosympaticus, yang mengatur rasa sakit. Dengan demikian timbul suatu pengurangan sakit. Acetylcholin yang terbentuk di dalam synaps otot seram lintang langsung dinetralisir lagi oleh cholinesterase, sehingga kerjanya betul- betul lokal.
Hoff membuat percobaan yang menarik. Ia mengambil serum dari seorang testi, sepuluh menit sebelum dan sepuluh menit sesudah dimassage. Kedua serum tersebut diinjeksikan secara intrakutan (di bawah kulit) kepada orang coba lainnya. Testi yang diinjeksi serum yang diambil setelah massage, terjadi pembengkakan 40- 50% lebih besar daripada seorang testi yang disuntikkan sebelum dimassage. Tambahan lagi timbul tekanan darah rendah, nadi rendah, dan pengurangan leukosit sebagai hasil kerja dari zat- zat tersebut.
Storck telah menunjukkan bahwa otot yang dimassage dapat menghasilkan prestasi 2- 4 kali lebih besar daripada otot yang tidak dimassage. Prestasi yang lebih besar tersebut tidak dapat dicapai, jika seseorang bukan diberi massage, tetapi diberi istirahat selama waktu yang dipergunakan untuk massage. Karena massage, maka pertukaran zat di dalam kapiler- kapiler menjadi lebih baik. Inilah yang mengakibatkan zat asam lebih banyak dikirimkan dan menghantarkan ke prestasi yang lebih tinggi.
Profesor Zabludowski sampai ke kesimpulan yang serupa. Ia menyuruh seorang testi mengangkat beban seberat 1 Kg, dengan membengkokkan sendi cubiti, testi tersebut mampu sampai 840 angkatan. Setelah lima menit istirahat kemampuan 840 kali angkatan tidak dapat tercapai. Namun setelah lima menit dimassage testi tersebut mampu mengangkat sampai 1100 kali angkatan. Jadi percobaan profesor Zabludowski menyatakan adanya perbaikan prestasi setelah dimassage.
Sekelompok kecil ingin menguraikan kerja massage dengan dasar psikis. Mereka ini menyangkal pengaruh massage terhadap tubuh, dan mempergunakan jalan psikis olahragawan yang merasa dalam kondisi yang lebih baik. Hal tersebut adalah jalan pemikiran yang sepihak, yang oleh bermacam- macam percobaan dalam bidang massage sebenarnya telah cukup diteliti. Tentunya dari massage akan ada kerja psikis, akan tetapi salah jika kerja psikis dinilai secara berlebihan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa  massage dapat berpengaruh terhadap kelancaran peredaran darah. Namun mekanisme massage tidak dapat dianalogikan seperti pipa karet dan air, karena pipa karet ada uadara didalamnya dan hal ini berbeda dengan pembuluh darah atau pun otot. Dan juga  terjadinya pengerasan otot atau disebut myogelosen disebabkan adanya perubahan-perubahan kimiawi di dalam koloida otot.



















C. Teknik- Teknik Sport Massage

1. Effleurage
Effleurage adalah gerakan urut mengusap yang dilakukan secara ritmis/berirama dan berturut-turut ke arah atas. Arti gerakan mengusap, yaitu gerakan ringan dan terus menerus yang dilakukan dengan ujung jari bagian bawah terutama pada bagian wajah yang sempit seperti hidung dan dagu. Dan dengan telapak tangan pada bagian wajah yang lebar seperti dahi dan pipi.
Lakukan secara pelan dan berirama tanpa tekanan. Pijatan secara  effleurage memiliki efek seudatif yaitu efek menenangkan, oleh karena itu gerakan ini selalu dilakukan pada awal dan akhir pemijatan. Untuk melakukan gerakan mengurut, otot-otot tangan dan jari-jari dikendurkan. Pada gerakan effleurage telapak tangan atau jari harus melekat dan menyesuaikan dengan bagian yang sedang diurut sambil menekan perlahan- lahan pada setiap bagian yang diurut, dan tidak boleh dilepaskan dari kulit yang sedang diurut  sebelum keseluruhan bagian tersebut selesai. Pada tiap gerakan effleurage tekanan harus ringan pada permulaan lalu menjadi keras dan berkurang lagi pada akhir gerakan  Penting diperhatikan bahwa tangan yang mengusap itu kembali ke tempat asal pengurutan lepas dari kulit yang baru diurut.  Effleurage sering dipakai untuk muka, leher, kulit kepala, punggung, dada, lengan dan kaki.
Khasiat gerakan ini seperti:
a.  Menghilangkan secara mekanis sel-sel epitel yang telah mengelupas. Pengusapan dapat diperlancar dengan menggunakan krim atau minyak. 
b.  Akibat pengusapan terhadap peredaran darah dan getah bening adalah
berikut :
1)  Mempercepat pengangkutan zat-zat sampah dan darah yang 
mengandung karbondioksida juga memperlancar aliran limfe baru dan
darah yang mengandung banyak sari makanan dan oksigen.
2)  Pertukaran zat (metabolisme) di semua jaringan meningkat dan pemberian makanan kepada kulit dari dalam tubuh lebih terjamin.

2.   Friction
Gerakan ini memberi tekanan pada kulit untuk memperlancar sirkulasi darah, mengaktifkan kelenjar kulit, menghilangkan kerut dan memperkuat otot kulit.
Lakukan pijatan melingkar ringan dengan dua ujung jari yang ditekankan tegak lurus pada bagian yang dipijat. Pengurutan menggosok ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap serabut- serabut kenyal jaringan ikat. Karena tekanan vertikal ke bawah, serabut tersebut berkerut dan jika tekanan dilepaskan akan memanjang lagi seperti gerakan gymnastik. Friction memutar adalah gerakan yang biasa dipakai pada kulit kepala,  muka, lengan dan tangan. Mengurut cara  friction jika dilakukan pada kulit kepala, mengakibatkan obat rambut yang digunakan akan diserap lebih cepat karena panas yang timbul oleh gosokan. Dan gosokan memutar dapat juga melepaskan sindap atau sisik pada kulit kepala. Gerakan  friction pada bagian lengan dan tangan yaitu dengan cara menggeser, dan meremas serta memutar. Gerakan ini dilakukan dengan memegang lengan atau tangan dengan kuat, dengan satu tangan dan menggerakkan secara bolak balik di atas tulang, dan tangan satunya lagi memegang lengan supaya tidak bergerak.
Khasiat gerakan friction yaitu :
a.   Berpengaruh terhadap penyembuhan bagian-bagian jaringan yang sakit atau kurang sempurna.
b.   Produksi kelenjar-kelenjar palit atau lemak oleh tekanan dan pelepasan urutan menggosok ini, dirangsang hingga cara ini berfaedah terutama untuk kulit kering.
c.   Friction mempunyai pengaruh yang nyata terhadap peredaran darah dan aktivitas kelenjar-kelenjar dalam kulit.

3.   Petrissage 
Gerakan ini menggunakan ujung jari dan telapak tangan untuk menjepit beberapa bagian kulit. Pijatan jenis ini perlu sedikit tekanan (pressure). Tujuan pijatan dengan sedikit menjepit atau menekan adalah untuk memberikan stimulasi yang lebih dalam pada kulit dan memperlancar sirkulasi. Tekanan dan jepitan harus dilakukan secara ringan dan berirama. Pada pengurutan  badan,  pertisage dilakukan di antara jari-jari dan telapak tangan. Pada pengurutan muka dan leher hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk atau kelingking. Fulling  adalah suatu bentuk petrisage yang kebanyakan dipakai untuk mengurut lengan. Dengan jari kedua belah tangan, lengan dipegang dan satu gerakan memijat dilakukan pada otot.

Khasiat gerakan petrisage adalah :
a.   Memperlancar penyaluran zat-zat di dalam jaringan ke dalam pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, seakan-akan diremaskan ke dalamnya.
b.   Darah dan getah bening mengantarkan sari makanan ke jaringan dan membawa ampas pertukaran zat dari jaringan ke alat-alat pembuangan. Jika aliran darah dan getah bening tidak lancar, maka terjadilah pembendungan yang dapat dihindarkan secara positif melalui pengurutan meremas.
c. Serabut-serabut kenyal jaringan ikat pertama-tama dirangsang : gerakan tarik menarik atau tekan menekan akan menambah kekenyalannya.
4.   Tapotement
Tapotement merupakan gerakan ketukan-ketukan yang berturut-turut dan cepat,yang dilakukan dengan seluruh tangan atau dengan ujung jari. Telunjuk dalam gerakan ini harus ditahan sedikit karena kekuatannya melampaui kekuatan jari-jari lainnya. Pada jenis pijatan ini, ujung jari ditekankan  dengan tujuan untuk memberi stimulasi pada kulit. Pada  tapotage, ketukan dimulai dari pergelangan tangan dan merupakan sentuhan-sentuhan terhadap kulit. Ketukan ini tidak boleh menimbulkan rasa sakit, dan pukulannya selalu harus melenturkan kembali. Gerakan pada ketukan ujung jari dilaksanakan pada sendi antara ruas satu jari dan tulang telapak tangan. Jari-jari pada gerakan ketukan tangan, bersikap pasif  tetapi pada ketukan jari bersikap aktif. Ketukan dilakukan jika perlu untuk mengembalikan tonis otot-otot yang kendur dan pula untuk merangsang ujung urat syaraf. Jika ketukan dilakukan dengan enteng, maka tiap ketukan merupakan suatu rangsangan yang menimbulkan kontraksi otot yang kelak melemas kembali. Oleh sebab kontraksi yang berulang-ulang, otot-otot akan terlatih dan menjadi lebih kuat. Untuk pengurutan muka hanya dipakai gerakan ketukan yang sangat ringan dan perlahan, yakni dengan menyentuhkan kedua ruas jari. Gerakan mencincang adalah gerakan menepuk yang dilakukan dengan menggunakan bagian samping luar kedua tangan, yang ditepukkan pada kulit secara berturut-turut dan berganti-ganti. Gerakan mencincang dan menpuk, kebanyakan dipakai untuk pengurutan punggung, bahu dan lengan.
Khasiat gerakan  tapotage adalah untuk menyegarkan otot-otot dan melancarkan peredaran darah serta getah bening pada tempat yang diurut.
5.   Shaking
Shaking adalah gerakan menggetar yang berfungsi untuk merangsang atau untuk menenangkan urat syaraf serta menghilangkan kerut pada wajah. Pada pijatan ini gunakan ujung jari dan telapak tangan untuk menggetarkan kulit secara bergantian. Pijatan ini dapat pula menggunakan alat yang disebut  vibrator.  Gerakan menggetar untuk merangsang dan  dilakukan dengan cara menggetarkan ujung jari di atas urat syaraf  dinamakan  vibrasi statis  dan gerakan menggetar yang bertujuan untuk menenangkan dinamakan  vibrasi dinamis  yakni getaran yang dilakukan sepanjang jalannya syaraf dengan ujung jari. Untuk mencegah rangsangan yang berlebihan, gerakan vibrasi hanya dilakukan sekali-kali dan tidak boleh berlangsung lebih dari beberapa detik pada satu tempat. Khasiat gerakan  vibrasi adalah untuk melemaskan jaringan-jaringan dan menghilangkan ketegangan.
6.   Gerakan Terpadu 
Gerakan terpadu, dilakukan terbatas pada pengurutan lengan, tangan dan kaki. Gerakan ini merupakan gerakan yang dilakukan terhadap sendi, baik gerakan ke muka, ke belakang atau memutar.
Macam gerakan :
a.   Gerakan pasif dari pergelangan yang dilakukan dengan cara melengkungkan tangan ke belakang. Gerakan serupa dapat dilakukan pada jari-jari kaki atau pada kaki.
b.   Gerakan ke arah telapak tangan secara pasif yang dilakukan dari pergelangan dengan melengkungkan tangan ke bawah. Gerakan serupa dapat dilakukan terhadap jari-jari tangan dan kaki atau pada kaki.
c.   Gerakan memutar jari-jari secara pasif. Gerakan serupa dapat dilakukan untuk lengan bawah, jari kaki atau kaki. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu melakukan pengurutan yaitu
kuku jari pengurut harus pendek, tidak dipotong melengkung ke bawah dan terpelihara secara baik. Dan gerakan-gerakan pengurutan ini dapat dipilih sesuai dengan kondisi orang yang diurut, khusus untuk gerakan effleurage selalu dipakai pada awal dan akhir pengurutan.

D. Pengaruh Massage terhadap Tubuh
1. Pengaruh Massage Terhadap Jaringan Otot
Massage mempercepat pengosongan dan pengisian cairan sehingga memperlancar sirkulasi dan pembebasan sisa-sisa pembakaran, memperlancar penyajian nutrisi sehingga mempercepat proses pemulihan. Terhadap otot yang mengalami cedera, massage membantu penyebaran traumatic-effusion dan suplai darah terhadap jaringan.
Massage dapat menghilangkan atau mencegah terjadinya perlekatan dan scar tissue akibat adanya cairan yang disebut traumatic exudate yang dapat menyebabkan melekatnya serabut otot satu sama lain dan menimbulkan penebalan (thickening). Perlekatan yang menjadi penebalan ini bila telah berlangsung lama sukar dihilangkan, kecuali dengan operasi.
2. Pengaruh Massage Terhadap Pekerjaan Syaraf
Umumnya massage memberikan rangsangan terhadap syaraf sensibel motorik sehingga menimbulkan reflek. Massage juga bersifat menggiatkan bila diberikan dengan cepat dalam waktu yang singkat.
Massage dengan kecepatan sedang dengan waktu agak lama dapat menghilangkan atau mengurangi rasa sakit. Massage yang lembut memberikan pengaruh yang menenangkan. Di samping itu massage dapat memelihara kondisi syaraf.
3. Indikasi Massage
Penggunaan massage umumnya dianjurkan setelah bekerja berat karena sangat besar manfaatnya dalam membantu mengembalikan tubuh dalam keadaan pulih. Massage membantu menghilangkan kelelahan dengan segala gejala yang menyertainya, seperti rasa pegal, kaku, nyeri, atau perasaan lemas. Massage demikian diasanya dilakukan kepada seluruh tubuh dalam waktu yang cukup lama, kira-kira satu jam.
Pekerjaan ringan tetapi terus menerus seperti misalnya terlalu lama duduk atau berdiri atau dalam pekerjaan yang menimbulkan kelelahan dan kejenuhan. Dalam hal ini kelelahan mungkin bersifat mental maupun fisik. Biasanya massage di akhir tugas tersebut mengembalikan tubuh maupun perasaan kembali nyaman.Di dalam dunia olahraga dewasa ini massage telah menjadi sebagian upaya pemeliharaan kondisi pada olahragawan pada masa latihan, sebelum pertandingan, masa pertandingan, dan sesudah pertandingan. Dalam pengiriman tim olahraga dewasa ini selalu mengikutsertakan sedikitnya seorang masseur.
Untuk merawat dan mengembalikan fungsi bagian badan setelah cedera, membantu mempercepat proses penyembuhan. Seringkali massage diperlukan untuk meneruskan pekerjaan dokter, misalnya setelah sembuh dari operasi atau perawatan dari patah tulang. Tugasnya adalah mengembalikan fungsi-fungsi otot dan persendian yang biasanya mengalami kekakuan
4. Kontra Indikasi Massage
Dalam keadaan tertentu massage tidak boleh dilakukan dan merupakan kontra indikasi. Hal ini biasanya menyangkut keadaan sebagai berikut:
• Atas nasehat dokter agar tidak dilakukan massage demi keselamatan pasien.
• Dalam keadaan kena infeksi penyakit menular seperti : cacar, campak, demam, liver, dan lain-lain.
• Suhu tubuh meningkat tinggi karena infeksi.
• Dalam keadaan sakit berat sehingga memerlukan istirahat yang benar.
• Menderita penyakit yang berkenaan dengan pembuluh darah seperti arterisclerosis, trombosis dan lain-lain.
• Pada setiap jenis penyakit syaraf yang berat seperti penderita chorea dan neurathenia.
• Menderita penyakit haemophilia, karena cenderung terjadi pendarahan, meskipun sebab yang kurang jelas.
• Menderita penyakit tertentu yang bila dimassage dapat menyebabkan meluasnya infeksi seperti bisul, borok, dsb
• Pembengkakkan akibat cedera yang masih baru yang menunjukkan adanya pendarahan di dalam. Kapiler-kapiler yang tadinya pecah dan telah menutup dapat pecah kembali bila dimassage. Judga pada luka yang belum sembuh atau baru
• sembuh.
• Patah tulang yang baru sembuh. Massage dapat mengganggu letak sambungan.
• Menderita penyakit tumor atau kanker.
• Sedang datang bulan atau pada hamil muda. Juga pada peradangan usus buntu (appendicitis), Gastroentiritis, coliyis, dll. Demikian juga bila ada batu dalam
• kandung empedu.
• Menderita tekanan darah tinggi, pendarahan otak, penyakit jantung dan paru-paru.

















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa  massage dapat berpengaruh terhadap kelancaran peredaran darah. Namun mekanisme massage tidak dapat dianalogikan seperti pipa karet dan air, karena pipa karet ada uadara didalamnya dan hal ini berbeda dengan pembuluh darah atau pun otot. Dan juga  terjadinya pengerasan otot atau disebut myogelosen disebabkan adanya perubahan-perubahan kimiawi di dalam koloida otot.

B. Saran
Makalah ini masih banyak memiliki kekurangan- kekurangan, penulis berharap saran dari seluruh kalangan agar dapat menyempurnakan makalah ini.











DAFTAR PUSTAKA

Mashoed.1979. Massage Olahraga Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Dan pendidikan Keselamatan. Jakarta: Mutiara
Priyonoadi Bambang, 2008. Sport Massage.Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan.
http://kutablang15.blogspot.com/2010/10/teknik-pemijatan-tungkai-bagian.html (diakses 3 februari 2011)
http://kutablang15.blogspot.com/2010/10/teknik-pemijatan-tungkai-bagian-depan.html (diakses 3 februari 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar